Melalui dukungan kepolisian, khususnya dari jajaran lalu lintas, kedai tersebut kemudian direnovasi secara menyeluruh hingga menjadi Kedai ADO Presisi. Tempat ini disiapkan sebagai ruang makan, beristirahat, sekaligus tempat berkumpul bagi para driver dengan harga yang terjangkau.
“Di sini kawan-kawan ojol bisa makan, ngopi, dan beristirahat dengan harga murah. Sesuai pesan Pak Gubernur, jangan mahal-mahal,” ujarnya.
Bahas Keamanan hingga Legalitas Driver
Selain meresmikan kedai, dialog antara Kapolri dan komunitas ojol juga membahas berbagai persoalan yang dihadapi para driver di lapangan, mulai dari keamanan hingga legalitas profesi.
Salah satu program yang tengah disiapkan adalah sistem panic button bagi driver ojol. Melalui fitur ini, pengemudi dapat langsung meminta bantuan kepolisian jika mengalami kecelakaan, tindak kriminal, atau kondisi darurat saat bekerja di jalan.
“Driver di jalan sangat rentan terhadap kecelakaan maupun pembegalan. Dengan panic button, mereka bisa langsung meminta pertolongan polisi kapan saja,” kata Asrul.
Selain itu, ADO juga memiliki sistem pelacakan lokasi internal atau sherlock yang memungkinkan organisasi mengetahui posisi driver saat bekerja. Sistem tersebut diharapkan dapat terintegrasi dengan kepolisian untuk mempercepat respons jika terjadi insiden.
Atensi Khusus Kapolri
Asrul menyebut pertemuan langsung antara Kapolri dan komunitas ojol di Palembang merupakan perhatian khusus, karena belum pernah dilakukan secara langsung di daerah lain.
“Kapolri sudah menyampaikan sejak dari Jakarta bahwa beliau ingin bertemu langsung dengan ketua dan anggota ojol. Ini atensi yang luar biasa bagi kami,” ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dan kepolisian dalam merespons berbagai persoalan yang dihadapi para pengemudi transportasi daring.(Sandy)













